Articles
25th Aug 2014Posted in: Articles 0
Dari Mana Datangnya Cemburu?

Cemburu sering disebut-sebut sebagai bumbu dalam hubungan percintaan. Banyak orang percaya, tanpa cemburu, hubungan cinta akan hambar membosankan. Walau banyak juga yang terpaksa mengakui, bahwa terbakar api cemburu dapat membahayakan kelangsungan hubungan. Tak sedikit yang bahkan memilih untuk memutuskan komitmen asmara karena tak kuat berurusan dengan cemburu. Baik sebagai subyek pelaku, maupun sebagai obyek yang dicemburui.

Sebenarnya, perumpamaan cemburu sebagai bumbu sudah sangat tepat. Karena jika kadarnya seimbang, cemburu memang akan menambah ‘cita rasa’ dalam bercinta. Dan jika terlalu banyak, dijamin membuat ‘mblenek’. Seimbang atau tidaknya kadar cemburu, banyak dipengaruhi oleh kepribadian orang per orang. Hal ini terlihat dari latar belakang kecemburuan yang mereka rasakan. Coba cek, pada diri sendiri, atau pada pasangan, sebenarnya, apa sih yang mengakibatkan rasa cemburu muncul:

Takut Kehilangan

Alasan ini mungkin adalah alasan yang paling bisa diterima. Siapa sih yang tak senang jika pasangan takut kehilangan dirinya? Rasa ini, selama tak meningkat ke level posesif, dapat dikatakan, lahir dari rasa cinta mendalam. Beruntunglah mereka, yang membumbui kehidupan cintanya dengan saling merasa takut kehilangan.

Ketidakpercayaan

Urusan ini cukup repot, karena dalam sebuah hubungan, kepercayaan adalah modal besar yang harus dimiliki. Jika salah satu dari pasangan memiliki rasa ini, coba digali lagi, darimana datangnya. Apakah memang tingkah laku pasangannya tak dapat dipercaya? Atau apakah ada trauma masa lalu yang membuatnya sulit mempercayai orang lain? Apapun, tidak adanya kepercayaan dalam hubungan harus diatasi. Cemburu hanyalah sebuah ‘komplikasi’ kecil dari ‘penyakit besar’ tersebut.

Tak Rela Berbagi

Wajar, jika kita ingin selalu jadi pusat perhatian pasangan. Tapi tak wajar jika kondisi kita sedang baik-baik saja, lalu dia tak bisa mendedikasikan waktunya untuk yang sedang memerlukan bantuan. Atau, mengambilnya sepenuhnya dari orang-orang terdekatnya seperti teman dan keluarga. Selama selalu jadi yang no1, relakan lah si dia untuk memberi perhatian pada yang no 2 dan nomor-nomor selanjutnya, selama itu tak berarti mengingkari komitmen untuk setia.

Hasrat Untuk Mengontrol

Kalau ini, rasanya keseimbangan dalam hubungan bisa hilang seketika. Pada dasarnya, keinginan untuk mengambil kontrol sepenuhnya pada seseorang bukanlah hal yang sehat. Apalagi jika berencana memiliki hubungan jangka panjang. Biasanya, kecemburuan dengan latar belakang hasrat untuk mengontrol pasangan, akan berakhir dengan sad ending.

Memahami latar belakang cemburu bisa membantu pasangan untuk mengatasinya. Jika penyebabnya memang alasan yang tidak sehat, segera atasi selagi memungkinkan. Sebelum kadarnya meninggi, mengganggu, dan akhirnya menjadi ancaman terputusnya hubungan. Selamat ‘meracik bumbu’ J

Leave a Reply